FOTO MENGINGATKAN KU AKAN KASIH SAYANGNYA

            Oleh    : Eka Preti

Senin tanggal 20 juli 2012 adalah hari pertama Aisyah libur kuliah. Ia bertekad untuk tidur sampai siang. Tapi tiba- tiba tidurnya terusik dengan terdengar suara ibunya memanggilnya dari balik pintu kamarnya.

“ Ais, cepatt bangun! Bantu ibu bersih- bersih rumah! ” ( suara ibu yang terdegar sangat keras yang menurutku seperti suaranya Candil )

“ iya, sebentar bu, Ais masih ngantuk. ” jawabku dengan malas

“ ya sudah ibu tunggu. ” jawab ibu agak sebal

Kemudian aku berjalan gontai menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sesampainya di kamar mandi aku mengambil air, tapi airnya terlalu dingin, tapi apa daya itu harus aku lakukan demi perintah ibuku. Setelah selesai aku menemui ibuku.

“ ibu sekarang apa yang harus aku bersihkan.” Tanyaku dengan agak malas

“ sekarang kamu bersihkan lemari yang ada di ruang tamu. Jawab Ibu

Aku berjalan ke ruang tamu dengan pelan-pelan, hingga akhirnya aku sampai di ruangan itu. Betapa terkejutnya aku saat membuka lemari itu. Lemarinya banyak berisi mainan adikku mulai dari boneka, uang mainan, tempat masak-masakan dan masih banyak lagi. Saat itu hatiku sangat dongkol. Tapi dengan terpaksa aku memungutinya dan memilah- milah mana mainan yang masih layak pakai.

Saat memilah- milah mainan adikku tanpa sengaja aku menemukan album foto. Aku penasaran foto apa saja yang ada di album itu. Perlahan- lahan ku buka kemudian aku melihat foto ku waktu kecil dengan keluargaku. Halaman demi halaman aku buka, ketika sampai di halaman ketiga aku melihat diriku yang sedang menangis bersama orang yang tak ku kenal. Saat itu pikiranku melayang mengigat kenapa aku menangis.

Beberapa saat kemudian aku teringat kejadian itu. Kejadian itu bermula saat aku kelas dua SD. Saat itu aku pergi ke seorang tukang susuk.( tukang susuk yang aku maksud bukan tukang susuk awet muda atau yang lainnya). Disana orangtuaku menyusukan sakit gatalku yang membuatku tidak bisa berjalan selama 7 hari. Bayanganku melayang lagi, lalu Aku teringat perjuangan dari ibuku yang rela menjual cicin perkawinannya demi penyakitku. tak hanya itu Ibuku juga saat telaten dalam merawatku. Dalam bayanganku tak pernah sekalipun ibuku merasa mengeluh terhadap apa yang aku rasakan. Tanpa sengaja aku meneteskan air mata. Sampai saat ini saja kasih sayangnya kepadaku masih sangat besar.

Betapa tidak bergunanya diriku saat ini karena pekerjaan mencuci bajuku saja masih dikerjakan oleh ibuku. Tapi dia tak pernah mengeluh sedikitpun. Selain itu pekerjaan bersih- bersih rumah terkadang sering aku lalaikan, namun dengan teguran ibu mengingatkanku.

Hingga detik terakhir dalam hidupnya kelak kasih sayang dari ibuku akan tercukarkan pada dua orang anaknya ini. Anak yang sering sekali membantah dirinya, anak yang pemalas, anak ya…………………..…………………………………………..

Sungguh aku tidak sanggup melanjutkan perkataanku karena banyak sekali hal buruk dalam diriku. Betapa tak bergunanya diriku ini.

“ Ais, apa pekerjaanmu sudah selesai?” suara ibu mengagetkan lamunanku

“ belum bu.” Jawabku datar

“ ya sudah, kalau selesai kamu makan dulu ya.” Perintahnya

Mendengar perkataannya itu aku sangat sedih. Betapa sayangnya ibuku padaku.

Aku berharap semoga engkau senantiasa diberikan kesehatan oleh sang pencipta. Dengan kesehatan yang diberikan sang pencipta aku berharap beliau dapat melihat aku menjadi orang yang berguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s